Selayang Pandang Awardee LPDP Adelaide

Adelaide adalah sebuah kota kecil di pesisir sebuah teluk yang didapuk sebagai ibukota negara bagian South Australia (SA). Gemerlapnya memang kalah jauh jika dibandingkan dengan Sydney dan Melbourne, namun Adelaide memiliki keistimewaan sebagai kota pertama di Australia yang didesain sejak awal oleh pemerintah kolonial Inggris. Hasilnya adalah sebuah kota yang tertata rapi, bersih, sejuk (di luar summer paling tidak), nyaman dan asri. Adelaide memiliki berbagai julukan, mulai dari city of a hundred sunsets (karena semua pantainya menghadap ke barat), the 20-minute city (karena luas wilayahnya kecil sementara jalan-jalannya lebar, lurus dan lengang) hingga fine city (karena banyak aturan yang jika dilanggar bisa terkena denda, bahkan pejalan kaki sekalipun).

Hanya ada tiga universitas besar yang berlokasi di Adelaide dan sekitarnya, yaitu University of Adelaide, Flinders University dan University of South Australia (UniSA). University of Adelaide termasuk delapan besar universitas di Australia, sehingga ia menjadi satu-satunya universitas di Adelaide yang tercantum di dalam daftar universitas tujuan LPDP, walaupun secara tradisi mayoritas mahasiswa asal Indonesia di SA berkuliah di Flinders.

Jumlah awardee LPDP di SA terbilang sedikit namun bertambah dengan pesat dalam setahun terakhir. Awalnya hanya dua awardee yang berkuliah di Adelaide di awal tahun 2014, yaitu mBak Dian dan mBak Cut, keduanya mengambil Master of Public Health di Adelaide Uni dan berasal dari PK 5. Di semester berikutnya mereka disusul oleh Mas Iqbal, mBak Mita, dan Kang Arham, awardee LPDP pertama (dan sejauh ini satu-satunya di level masters) di Flinders Uni.

Awal 2015, jumlah awardee LPDP Adelaide menjadi dua kali lipat dengan kedatangan Mas Marvin (yang kemudian sempat menjabat sebagai Presiden PPIA Adelaide Uni), Mas Indra (PhD student pertama di Adelaide dari LPDP), Mas Andi Alamsyah, Mas Carl (keduanya di Petroleum Geology Adelaide Uni) dan mBak Leni (PhD student pertama di Flinders dari LPDP). Sejak itu pula dibentuk sebuah grup Whatsapp Awardee LPDP Adelaide dengan Kang Arham selaku “lurah de facto”. Tujuan grup tersebut adalah untuk menjaga komunikasi antar “penghuni” Adelaide dan membantu para awardee LPDP yang masih di tanah air dan sedang mempersiapkan diri untuk berangkat ke Adelaide.

Grup ini mulai benar-benar terasa manfaatnya ketika rombongan LPDP yang dipimpin oleh Direktur Keuangan LPDP Bpk. Abdul Kahar dan Sekjen Kemendikbud Bpk. Ainun Naim datang ke Adelaide pada bulan Februari 2015 untuk melakukan monitoring dan evaluasi. Itulah pertama kalinya para awardee LPDP SA berkumpul “kopi darat”, sebuah kesempatan yang terbilang langka. Dikatakan langka karena kumpul-kumpul berikutnya baru dilaksanakan lagi dalam acara buka puasa bersama di bulan Ramadhan pada tahun yang sama.

Pada waktu itu awardee LPDP SA bertambah lagi tujuh orang: mBak Ria yang (dari) Malang, Bu Dokter Andien, mBak Tika, Mas MY Sang Penulis, Mas Andi Syurganda, Mas Madi yang fenomenal, Kang Ridlo yang sekarang menjadi Presiden PPIA SA, dan Pak Lurah de jure kami yang sekarang, Sang Bobotoh Persib sejati, Kang Yanuar. Beberapa bulan kemudian resmilah mBak Dian dan mBak Cut menjadi duo pionir wisudawan dan alumni LPDP cabang Adelaide, disusul kemudian oleh mBak Mita, Mas Andi Alam dan Mas Carl sembari menutup tahun 2015.

Tahun 2016 ini menjadi salah satu tonggak sejarah kiprah awardee LPDP di Adelaide dengan membludaknya pendatang baru, terutama yang melanjutkan studi ke program Master of Education Adelaide Uni hingga mereka mampu mendirikan satu “RW” sendiri di dalam wilayah “kelurahan” LPDP Adelaide. Perkembangan ini tampak sekali ketika kami mengadakan BBQ bersama di Bonython Park pada bulan Februari. Salah satu di antara mereka kemudian terpilih menjadi suksesor Mas Marvin selaku Presiden PPIA Adelaide Uni, yaitu Mas Soni, the motivational author and trainer.

Sementara itu “keluarga” LPDP Flinders bertambah dengan kedatangan Mas Yoga, mBak Cece dan mBak Nuzul, yang kesemuanya, termasuk mBak Leni, kembali ke almamater mereka untuk melanjutkan ke jenjang doktoral. Satu milestone lainnya adalah datangnya awardee LPDP pertama di UniSA, mBak Ari, yang juga mengambil program PhD. Sebaliknya, alumni juga bertambah dengan tuntasnya masa studi Kang Arham dan Mas Iqbal. Alhamdulillah kami masih sempat berkumpul sekali lagi untuk berbuka puasa bersama di Cafe Gembira, tempat yang sama dengan yang kami gunakan untuk menjamu rombongan monev LPDP di tahun sebelumnya.

Saat ini sudah lebih dari 40 awardee LPDP yang sedang menempuh studi pascasarjana di Adelaide, belum termasuk teman-teman yang bersiap-siap menyusul di tahun ini dan tahun depan. Bagaimanapun kami berharap bertambahnya jumlah awardee LPDP di Adelaide semakin mempererat silaturahmi dan kekompakan kami, termasuk bersama para alumni.

Demikian selayang pandang yang cukup panjang ini hingga mungkin membuat mata pembaca berair. Semoga perkenalan kami ini bermanfaat untuk sesama awardee dan calon awardee LPDP pada khususnya dan untuk semua yang beraspirasi untuk belajar di luar negeri tercinta Indonesia pada umumnya.