Jika Mahasiswa LN Sering Berbagi Banyak Cerita Menarik Via MedSos: Itu Hanyalah Kamuflase!

Oleh Felix Degei*                  

 Kini dengan adanya kemudahan dalam akses informasi dan teknologi segala sesuatu dapat disebarkan ataupun tersebar seketika. Terlebih khusus setelah muncul banyak situs media sosial yang dapat menghubungkan orang dari berbagai penjuru dunia untuk berinteraksi. Misalnya facebook, twitter, line, whatsApps, intagram, telegram, messangger, path dan lain sebagainya. Sehingga orang dapat bertukar informasi kapan saja dan dimana saja tanpa ada batasnya selama terhubung dengan jaringan internet (unlimitedly). Informasinya baik dalam bentuk berita, foto ataupun gambar hingga siaran langsung (live streaming).      

Kemudahan itupun kini marak telah dan sedang dimanfaatkan oleh semua orang tanpa kenal usia, status dan golongan. Termasuk oleh para mahasiswa yang sedang kuliah di tanah rantauan baik dalam negeri maupun luar negeri. Karena media sosial menjadi sarana untuk mengekspresikan setiap rasa dan pikir dari para perantau itu. Meski seringkali tidak sesuai dengan kenyataan hidupnya. Tapi itulah realitas hidup di dunia maya.

Oleh sebab itu, tulisan ini akan membahas potret kecil dari realitas hidup mahasiswa luar negeri. Hal ini penting mengingat seringkali keceriaan dan kegirangan yang nampak di media sosial menutupi perjuangan jatuh bangun sesungguhnya dalam studi. Mereka melakukan hal tersebut hanya untuk mengurasi rasa stress sesaat sebelum lanjut dengan berbagai tugas di kampus (refreshing). Sehingga penulis menyebutnya dengan istilah ‘kamuflase’.  

Berikut dua contoh kutipan langsung catatan postingan di media sosial yang pernah diposting oleh dua mahasiswi luar negeri. Hal yang menarik dari kedua postingan tersebut adalah meski diposting pada media sosial yang berbeda pada waktu yang berbeda pula tetapi memiliki tujuan yang sama. Maksud postingan tersebut adalah guna membangun kesadaran atas paradigma berpikir yang selama ini bisa saja salah dari netizen. Sehingga selanjutnya marilah kita telaah satu demi satu!

Kutipan Postingan Pertama:

Nurhidayah Umi Kalsum Ayha (Ayha) Mahasiswi Jurusan Master of Education Semester 3 di The University of Adelaide Australia Selatan menulis pada Akun Facebook pribadinya, Rabu 02 Agustus 2017, sebagai berikut:

“Curhat Pagi ini, bukan pertama kalinya dapat pesan dari salah satu teman yg dibilang dekat sih g krn bahasanya seakan tidak mengrti gmna sulitnya kami (mahasiswa yang kuliah diluar negeri) tertama z yang dr kampung beradaptasi dengan sistem perkuliahan disni yang ekstra cepat, memahami dosen yang ngomongnya ekstra cepat juga (maklum kemampuan bhasa inggris Z dibwh standar), mmahami stiap rubrik dr tugas yang diberikan agar nilainya g jeblok bhkn ada yg sampe nginap dikampus (krn sebgai pnerima beasiswa,ada standar yg hrus kmi cpai tiap semster) ditambah lagi kumpulnya pake turnitin yg menganalisa berapa persen plagiarism yg dilakukan, mmbaca n mmhami puluhan bhkan ada yg sampe ratusan artikel tuk satu mata kuliah (yang kata2nya super akademik), gmn mmbagi waktu antra kuliah n organisasi, menghdapi ujian yg kadang persentasinya hampir 1/2 dr nilai keseluruhan, tegang nya menunggu hasil semester release, dsb. jadi kalaupun yang terlihat hanyalah foto jalan2 (tu pun hasil dari menyisihkan biaya hidup) n senyum2 maniez, tu sebenrnya hanyalah kamuflase n cara kami menghilangkan sedikit lelah n penat ini, karna kami tak mungkin membagi tu semua kepada kalian, hehe (takut ntr mlah dibilangnya siapa suruh kuliah diluar negeri). Tapi apapun itu, Rasa sukur ini lebih besar karna tidak semua orang diberi kesempatan untuk merasakannya.”

 Jika kita membaca dan memahami dengan saksama isi postingan di atas, sifatnya hanya mengklarifikasi atas pemahaman yang sering keliru dari netizen terhadap kondisi hidup dan perjuangan Mahasiswa Indonesia di LN. Ia menyebutkan setidaknya ada tiga kondisi yang nyata biasa dihadapinya selama studi di balik keceriaan di media sosial tersebut.

Pertama, ia mengakui bahwa sebagai anak yang datang dari kampung butuh banyak penyesuaian. Salah satunya adalah soal bahasa. Hal ini menjadi tantangan terberat karena tentunya Bahasa Inggris yang digunakan adalah Bahasa Inggris Akademik. Dalam perkuliahan misalnya dosen penutur asli (native speaker) mereka mengajarkan dengan gaya bahasanya yang super cepat sehingga kami harus mampu mengikuti pembicaraannya untuk mengerti. Selain itu kami juga harus membaca jurnal artikel ilmiah yang jumlahnya puluhan hingga ratusan agar dapat mengikuti perkuliahan juga mengerjakan tugas-tugas (assignments).

Kedua, Dalam hal penugasan baik individual maupun kelompok selalu diberikan dengan kriteria penilaian yang detail dalam bentuk rubrik dengan bobot penilaian yang berbeda. Rubrik tersebut biasanya memuat beberapa aspek penting yang dinilai misalnya banyaknya kata yang harus ditulis sehingga mahasiswa harus mengerjakan dengan singkat, padat dan jelas logikanya (concise and coherent).

Selain itu aspek bagaimana mengutip hasil karya atau pendapat orang lain juga perhatian semua dosen. Sehingga para mahasiswa dituntut harus bisa menterjemahkan dengan baik dan benar (paraphrase) disertai dengan format pengutipan (citation) yang baku. Hal ini krusial karena hampir semua file tugas harus dimasukan melalui Aplikasi Turnitin. Aplikasi tersebut akan membaca serta memberikan bobot persentasi kesamaan secara otomatis dengan hasil karya orang lain untuk mengungkap tingkat kecurangan dalam pengutipan (plagiarism). Dengan demikian, seringkali kami harus menginap di kampus.

Ketiga, ia juga mengakui bahwa kami yang termasuk dalam badan pengurus organisasi baik dalam maupun luar kampus seperti Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) tentu ada kesibukan tersendiri. Sehingga kadangkala susah dalam membagi waktu. Akan tetapi, semua itu bagian dari pembelajaran.

Mahasiswi yang selalu disapa Mba. Ayha itu menutup komentarnya dengan pernyataan ‘Maaf Jika Salah Kata. Penglihatan Mata Kadang Menipu’!

 Kutipan Postingan Kedua:

Sementara, Titis Kusuma Dewi Mahasiswi Semester 2 Master of Education di The University of Adelaide Australia, menulis di Instagram pribadinya pada Sabtu 07 Oktober 2017 pukul 13:37 pm, sebagai berikut!

“Pasti ada yg org2 diluar sana yg terkesima melihat postingan tmn2 yg berada di luar negeri baik itu jalan2 maupun studi.

Lihat spot bagus cekrek, mampir tempat keren cekrek, ketemu bule cekrek lagi. Laksana kehidupan yg dijalani selalu riang gembira.

Padahal kebalikannya kawan, mereka berjuang dgn susah payah, jungkir balik, kurang tidur, lupa makan, bahkan sakit pun ditahan demi bisa mengumpulkan tugas tepat waktu.

Tahukah anda, mereka hanya membagikan moment2 menyenangkan agar bisa berbagi kebahagiaan dan bisa jadi menginspirasi tmn2 yg lain untuk bisa mewujudkan cita2nya ke luar negeri.

Kalau mereka posting hal2 yg “menyeramkan”, seperti foto list tugas2 yg dikmpulkan dlm sebulan dgn beribu2 kata, belum tugas presentasi yg bikin deg2an luar biasa, maka hal trsebut bisa jadi akan menyurutkan niat tmn2 untuk meraih mimpinya krn ketakutan dgn hal yg bahkan belum mereka coba.

Jd kawan2 foto2 bahagia mereka adalah bentuk penghargaan bagi mereka sendiri yg telah berkutat dgn bejibun assignments… Semangat meraih mimpi.”

 

Mahasiswi yang sehari-hari disapa Mba. Titis itu dalam statusnya mengklarifikasi jika yang terlihat selama ini di media sosial hanyalah untuk memotivasi agar banyak yang dapat mewujudkan cita-cita studi di luar negeri. Hal ini dilakukan agar semangat dan daya juang dari mereka tidak kendor dan pudar.

Padahal, kesehariannya jika diketahui sesungguhnya setiap mahasiswa itu sedang berjuang dengan susah payah hingga lupa makan, kurang tidur bahkan sakitpun ditahan hanya untuk mengumpulkan tugas tepat waktu. Mengejar batas waktu pengumpulan (deadline) telah menjadi momen yang sangat menakutkan bagi setiap mahasiswa di luar negeri. Apalagi bagi mereka yang suka menunda ataupun muncul ide seketika dekat waktu pengumpulan (procrastinate). Hal ini wajib diatasi segera mengingat ketika waktu pengumpulan lewat tidak akan muncul lagi kolom atau laman untuk mengumpulkan tugas karena tertutup secara otomatis.

Ia mengakhiri postingannya dengan pernyataan penegasan bahwa “foto-foto bahagia mahasiswa luar negeri adalah hanyalah penghargaan bagi mereka sendiri yang telah berkutat dengan tugas-tugas dalam perkuliahaan. Semangat meraih mimpih.” Tutupnya.

***

Kedua postingan di atas setidaknya telah mengungkap kebiasaan hidup mahasiswa luar negeri pada umumnya. Tentu pertama bahasa akan manjadi tantangan terberat bagi mahasiswa dari negara bukan berbahasa Inggris. Hal tersebut pasti akan berpengaruh dalam kegiatan perkuliahaan di kampus maupun dalam berorganisasi. Selain mereka harus melakukan kejujuran akademik (academic honesty) dalam mengutip atau memakai pendapat atau ide hasil karya orang lain. Ketrampilan menulis dengan pola yang singkat, padat dan jelas sangat dianjurkan (concise and coherent) karena hampir setiap tugas biasanya ditentukan berapa banyak kata yang harus ditulis.

Membaca dan menyimak ulasan realitas hidup di atas sungguh menyadarkan kita jika selama ini yang terlihat di Media Sosial selamanya tidak benar. Wajah yang penuh cerah, ceria, girang, eksotis hingga mempesona terlihat hanya untuk mencoba menghilangkan rasa stress (escaping for a while from stressfulness). Sehingga dalam tulisan ini penulis menggunakan kata ‘kamuflase’ untuk mempertegas situasi tersebut.

Singkat kata sebagai perantau dan petualang yang gagah berani tentu mereka tidak akan pernah undur dari perjuangannya. Bagi mereka yang berbaik hati dan memiliki rasa peduli akan terus berbagi cerita-ceritanya via media sosial. Jangan pernah berhenti mengikuti alur cerita mereka. Akan lebih baik dan berfaedah lagi jika berteman dengan mereka, lalu sering bertanya untuk belajar banyak dari mereka (para mahasiswa internasional) guna mewujudkan cita-cita untuk berkuliah di luar negeri.

*Penulis Adalah Awardee Beasiswa LPDP PK-69 Balin Bahari yang sedang Kuliah Pada Program Master of Education di The University of Adelaide Australia Selatan

Leave a Reply