M. Nurul Ikhsan Saleh Awardee LPDP RI yang Terpilih jadi Sekjen SRC The University of Adelaide Periode 2017-2018

Oleh Felix Degei*


*Foto dok pribadi.

Tepatnya Rabu (06/09) lalu, The University of Adelaide Australia Selatan secara resmi mengumumkan hasil pemilihan badan pengurus baru organisasi kemahasiswaannya (Adelaide University Union-AUU dan Students Representative Councils-SRC) periode 2017-2018. Dalam hasil tersebut diumunkan bahwa President AUU terpilih adalah Oscar Ong sementara Boughey Matthew terpilih jadi Ketua SRC.

Dalam pengumuman tersebut diumumkan juga bahwa Saudara M. Nurul Ikhsan Saleh Awardee Beasiswa LPDP RI PK-102 yang sedang belajar pada Program Master of Education semester 2 terpilih jadi Sekertaris Umum (Sekjen) SRC. Sehingga tulisan ini seluruhnya adalah hasil ramuan berdasarkan wawancara eksklusif penulis bersama Sekjen terpilih.

Student Representative Councils (SRC) adalah Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) yang memunyai peran sebagai perantara antara mahasiswa dengan pihak universitas. Mereka memunyai kewajiban untuk merangkul segala aspirasi dari mahasiswa dan masyarakat pada umumnya untuk selanjutnya diajukan ke pihak institusi dalam hal ini adalah The University of Adelaide.

Pria asal Madura tersebut saat ini sedang aktif juga dalam berbagai organisasi baik di dalam dan luar kampus. Misalnya ia sedang menjabat sebagai Wakil Presiden Persatuan Pelajar Indonesia Australia di The University of Adelaide (PPIA UofA), Sekertaris Lurah Awardee LPDP ranting Australia Selatan juga Anggota di GoLive Indonesia.

Ketika ditanya mengapa ia tertarik untuk mencalonkan diri sebagai Sekjen SRC? Ia menjawab saya mendapat tawaran langsung dari Presiden AUU saat ini Brodie Scott untuk mencalonkan diri. Hal ini patut diberikan apresiasi berhubung lazimnya kepercayaan diberikan oleh orang lain hanya karena kita dirasa mampu dan punya potensi yang dapat diandalkan dalam kelancaran roda organisasi.

Tapi ia juga mengakui bahwa sebenarnya ia sudah punya motivasi sendiri (intrinsik) untuk mencalonkan diri sejak awal.  Hal tersebut ditopang oleh karena selama ini belum pernah ada perwakilan mahasiswa dari Indonesia yang masuk di organisasi milik kampus seperti AUU dan SRC.

Selain itu, saya juga ingin manjadi pembawa damai sesuai latar belakang pendidikan saya yakni pendidikan perdamaian. Terlebih khusus dengan menjamin nilai-nilai universal dalam hidup manusia yakni kesetaraan jender (gender equality) dan menghapus perbedaan antar sesama (no discrimination) sesuai visi dari Partai yang ia tumpangi dalam pencalonan yakni ‘Partai Progress.’

Pria pemilik hobby yang paling disukai oleh kebanyakan wanita yakni memasak ini mengatakan bahwa ia punya motivasi hidup khusus dalam hidupnya. Motivasi tersebut adalah “Berbuatlah Meski Sedikit Ketimbang Hanya Berangan-angan Berbuat Banyak.” Tentu dapat dipahami bahwa pandangan hidup seperti itu juga yang mendorong ia berani mencalonkan diri dalam organisasi bergengsi itu.

Setelah ada tawaran, ia berani mencalonkan diri dengan masuk dalam Partai yang namanya ‘Progress’. Partai tersebut dinahkodai oleh Presiden AAU terpilih Oscar Ong juga Ketua SRC Boughey Matthew. Ia memiliki visi yang sangat unik yakni ‘Multi-Culturalism”. Artinya bahwa mereka sangat menghargai keanekaragaman suku, ras budaya dan etnis yang dimiliki oleh setiap orang. Terlebih khusus adalah segenap mahasiswa The University of Adelaide. Sehingga dalam pelayanannnya kelak akan diadopsi nilai-nilai hidup yang bersifat merangkul dari segala perbedaan.

Akhirnya setelah pemilihan selesai hasil yang diperoleh dari ‘Partai Progress’ sangat fantastis yakni dapat memenangi 60 % kursi atau 31 dari 40 kursi yang ada dalam kepengurusan organisasi. Sehingga dalam waktu dekat mereka akan dilantik untuk memegang tongkat estafet kepengurusan baik AUU maupun SRC.

Diakhir dari perbincangan kami ia juga berpesan kepada segenap Mahasiswa Indonesia pada umumnya bahwa sebenarnya setiap mahasiswa memiliki peluang yang sama untuk bersaing di setiap organisasi yang ada di kampus. Hal yang terpenting adalah apakah kita mau terlibat atau tidak? Kita hendaknya jadi pemain bukan hanya penonton semata. Apalagi ini ajang kita belajar dengan orang dari berbagai negara yang berbeda-berbeda.

Kita hidup bukan sendiri sebatang kara sebagaimana sebuah pulau di tengah samudra ‘no man is as an island.’ Sehingga kita mesti bersosialisasi dengan mengepakkan sayap kita untuk membangun hubungan (networking) bersama orang dari berbagai daerah ataupun negara.

Ia menutup seluruh rangkaian pembicaraannya dengan meminjam kata-kata dari Anies Baswedan, Ph. D., (Mantan Mendikti yang kini Gubernur DKI Jakarta) “Dimanapun Kita Harus Turun Tangan” Kutip Pria Jebolan Indonesia Mengajar itu.

*Penulis Adalah Awardee Beasiswa LPDP PK-69 Balin Bahari yang sedang Kuliah Pada Program Master of Education di The University of Adelaide Australia Selatan

Leave a Reply