Belajar sembari beribadah serta rinduku pada gema suara Azan di Adelaide.

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

 

Perjalanan hidupku dimulai dengan lembaran baru menginjakkan kaki untuk pertama kali di benua Australia tepatnya di kota Adelaide.  Kesan pertama sewaktu mendarat di bandara internasional Adelaide, sekilas terlihat bandaranya tidaklah begitu besar apabila dibandingkan dengan bandara Soekarno Hatta, tapi tentunya tidaklah sebesar bandara di Los Angeles California atau di Dubai UAE. Memang sebelum memilih untuk melanjutkan studi di Adelaide, diriku telah melakukan survei kecil-kecilan tentang kota yang akan aku kunjungi baik melalui foto satelit Google Maps ataupun melalui browsing di Internet/Wikipedia. Salah satu rekan sejawatku yang asli orang Australia, menyebut kota ini dengan istilah “city of churchs”.

Adelaide adalah kota yang unik dan memang tergolong kota yang kecil apabila dibandingkan dengan kota-kota lain di Australia dengan populasi penduduk yang tidak begitu padat. Bila dibandingkan dengan Jakarta, sepertinya jumlah penduduknya bisa 1/3 dari jumlah penduduk di Jakarta atau bahkan lebih kecil lagi. Setahuku Adelaide adalah kota yang telah direncanakan sebelum ditempati alias sudah diriset terlebih dahulu oleh orang Eropa sebelum mereka mendarat di benua Australia ini dan merupakan satu-satunya kota yang bukan merupakan “eks-penjara” sewaktu masa ekspansi mereka. Hal ini pun membuat kota ini tergolong sangat nyaman dalam beraktivitas dengan tata letak bangunan serta jalanan pun teratur sehingga membuat mobilitas keseharian berjalan efektif, beda jauh dengan masalah klasik ibukota negara kita yang untuk bergerak dari satu tempat ke tempat lain dengan jarak hanya kurang lebih 7 km bisa memakan waktu 1 atau 2 jam diakibatkan macet yang berkepanjangan di waktu “rush hour”. Untuk destinasi tempat kuliah, tentunya kota ini sangat direkomendasikan dan memang kota ini dijuluki serta dikenal juga sebagai kota pelajar oleh warga disini.

Alhamdulillah, aku ditempa dan diajarkan sedari kecil, dalam setiap beraktivitas untuk selalu menyeimbangkan kegiatan duniawi dengan akhirat, bahkan kegiatan serta final goalnya harus lah dititik beratkan kepada kampung akhirat karena disanalah rumah abadi kita tempat kesenangan yang hakiki dengan waktu yang tidak bertepi dan tidak ada artinya apabila dibandingkan dengan waktu hidup di dunia yang hanya sebentar. Allah berfirman :

Tidaklah Kuciptakan jin dan manusia kecuali supaya mereka beribadah kepada-Ku.”(Al- Qur’an. Surah Adz-Dzariyat: 56)

“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu”. (Al-Qur’an. Surah Al-Hadid: 20)

Beribadah dan belajar adalah seperti dua mata koin bagi diriku dalam mengarungi hidup ini. Kita tidak tahu, ide serta inspirasi atau terobosan baru yang dapat kita buat untuk kemaslahatan umat serta membawa manfaat untuk diri sendiri dan orang lain, dengan memperhatikan/bertadabbur atau menelisik fenomena-fenomena alam/jagad raya yang ada di sekitar kita. Tentunya sebagai muslim, Al-Qur’an dan Sunah/Hadits Rasulullah menjadi pegangan dan jalan keselamatan dalam mengarungi dunia yang fana ini. Terpikir olehku salah satu periode masa ke-emasan Islam di Andalusia dimana sewaktu itu kehidupan struktur sosial masyarakat sangat sejahtera, banyak fondasi awal dan pilar-pilar serta terobosan keilmuan yang lahir dari segala bidang, seperti dalam bidang kimia dan kedokteran dengan Ibnu Sina-nya (Avicenna), dalam bidang ilmu kebumian, sosial dengan Ibnu Rushdi-nya (Averrous), dalam bidang ilmu hitung/geometri/astronomi dengan Muhammad ibn Musa al-Khwarizmi-nya (Algorithm), Bapak Optik yakni Ibnu al-Haytam (Alhazen) dengan berbagai karyanya, dan banyak lagi ilmuwan-ilmuwan muslim yang tidak dapat aku jabarkan satu persatu yang menghasilkan karya-karya fenomental yang merupakan cikal bakal “renaissance” kemajuan saat ini. Tentunya mereka-mereka tersebut lahir dari lingkungan yang pasti selalu mengutamakan Berdzikir, Beribadah dan Berpikir dalam rutinitas keseharian mereka. Tentunya pun kegiatan keseharian mereka, tidaklah akan jauh-jauh dari Madrasah/Sekolah serta pastinya lingkungan Masjid. Alangkah rindunya mengulang masa tersebut atau bahkan melampuinya menuju masa ke-berlianan umat. Hal inilah yang akan selalu menjadi landasanku dalam memulai sesuatu (Berdzikir, Beribadah dan Berpikir), dimanapun aku berada, termasuk di kota Adelaide, Australia ini. Ah seandainya saja kota Adelaide ini bisa dan diperbolehkan untuk mendengar gaung dan gema Azan dalam rutinitas keseharian, tentunya akan sangat alangkah indahnya lantunan tersebut sehingga dari dikenal dengan istilah “city of churchs” bisa juga menjadi “city of Masjid”.

الله اعلم

 

Muhammad Kurniawan

Awardee LPDP PK 44 – Master of Petroleum Geoscience’s Student at the University of Adelaide

Mata Garuda Divisi Profesi & Kelompok Minat – Energi & Sumber Daya Mineral. kurniawan@matagaruda.org

Alumni Institut Teknologi Bandung – Teknik Geofisika 2002

muhammad.kurniawan@alumni.itb.ac.id

 

 

Leave a Reply