Leaderless Group Discussion (LGD) dalam Seleksi Beasiswa LPDP

Oleh Felix Degei

LEADERLESS GROUP DISCUSSION (LGD) adalah seleksi tahapan keempat atau terakhir yang wajib diikuti oleh setiap pelamar beasiswa yang didanai oleh Kementerian Keuangan Republik Indonesia melalui Lembaga Pengelola Dana Pandidikan (LPDP). Tentu sangat banyak orang yang tidak tahu tentang hal ini. Apalagi istilahnya saja sudah menggunakan Bahasa Asing yakni Bahasa Inggris. Oleh karena itu, tulisan singkat ini akan membahas secara khusus mengenai: Apa itu LGD? Mengapa disebut LGD? Dan, Bagaimana aturan main selama LGD itu berlangsung?

Ketika seorang pelamar Beasiswa LPDP selesai mengikuti tahap pengecekan berkas dan tes tertulis dengan menulis essay di tempat secara langsung (on the spot writing), mereka akan dibagi dalam kelompok yang terdiri beberapa orang. Dalam dinamika kelompok itulah mereka akan mengikuti proses tahapan seleksi dengan Leaderless Group Discussion (LGD) yang disaksikan langsung oleh tim seleksi. Sehingga selanjutnya mari kita lihat satu demi satu pembahasannya!

Apa itu Leaderless Group Discussion (LGD)?

Ada banyak sumber yang menjelaskan tentang pengertian dari istilah tersebut baik dalam Media Cetak maupun Online. Sehingga dari berbagai sumber tersebut dipahami bahwa Leaderless Group Discussion (LGD) itu sendiri adalah sebuah bentuk tes lisan yang menggunakan format diskusi dengan dinamika kelompok. Lazimnya dalam sebuah kelompok terdiri dari 5-9 orang.

Bedanya dengan jenis diskusi yang lain adalah tujuan dari diskusi itu sendiri. Misalnya Focus Group Discussion (FGD). Jenis diskusi ini bertujuan hanya untuk mengumpulkan data atau informasi dari setiap peserta dalam diskusi. Akan tetapi LGD bertujuan untuk mengamati perilaku seseorang selama diskusi berlangsung. Sehingga sangatlah jelas bahwa menunjukkan sikap dan perilaku yang wajar dan pantas di hadapan tim seleksi menjadi hal yang krusial untuk diperhatikan.

Mengapa disebut Leaderless Group Discussion (LGD)?

Alasan disebut Leaderless Group Discussion (LGD) adalah karena selama proses jalannya diskusi tidak ada yang ditunjuk ataupun dipilih untuk berperan sebagai pemimpin dalam kelompok secara resmi. Seluruh anggota dalam kelompok dapat duduk sejajar dengan hak dan kewajiban yang sama (leaderless). Sehingga, siapa saja dari kelompok tersebut bisa membuka dan mengakhiri jalannya diskusi seketika sudah siap dan selesai pembahasannya.

Namun demikian, tidak perluh dikuatirkan lagi tentang lancar dan tidaknya diskusi dalam kelompok karena sebelumnya akan diberikan pengarahan terlebih dahulu oleh tim seleksi. Baik itu informasi tentang tugas dan tanggungjawab setiap anggota, durasi waktu yang dimiliki oleh kelompok hingga seperangkat aspek yang hendak dinilai. Sehingga, pada bagian selanjutnya akan dijelaskan secara detail mengenai bagaimana proses dalam Tes LGD itu sendiri.

Bagaimana Aturan Main Selama Leaderless Group Discussion (LGD) Berlangsung?

Lazimnya dalam Format LGD terdiri dari 5-9 peserta tes. Sementara topik yang harus dibahas dalam kelompok diskusi tersebut selalu disediakan oleh penitia seleksi. Biasanya topik dan materi bahan diskusinya dalam bentuk sebuah cerita studi kasus atau narasi yang penjang. Sehingga tugas dari setiap peserta adalah menanggapi dengan memberikan komentar-komentar yang sifatnya kritis dan konstruktif terhadap bahan bacaan tersebut.

Tujuan utama dari diskusi tersebut adalah agar setiap peserta mampu memberikan ide yang kreatif untuk mendapatkan solusi pada kasus yang dibahas dalam bacaan. Sehingga setiap peserta diharapkan mampu mendengarkan dan menerima segala perbedaan pendapat dari anggota kelompok diskusinya. Sembari menunjukkan sikap dan perilaku yang sopan dan wajar selama diskusi berlangsung. Karena hal inilah yang akan lebih diperharikan oleh tim seleksi.

Selain itu, setidaknya ada empat hal yang wajib diperhatikan oleh setiap peserta diskusi selama diskusi berlangsung. Keempat aspek tersebut antara lain:

  • Harus ada salah seorang dari anggota yang mau membuka ataupun menutup jalannya diskusi. Kesediaan tersebut harus secara sukarela karena prinsip dari jenis diskusi ini tidak ada pemimpin atau moderator yang memimpin karena setiap peserta punya hak dan kewajiban yang sama.
  • Setiap peserta wajib mengutarakan pendapat atau opininya secara jelas, tepat dan bertanggung jawab. Hal ini berarti bahwa apapun jenis pendapatnya entah itu kritik, saran ataupun sanggahan mesti sesuai dengan pokok permasalahan yang sedang dibahas.
  • Pertanyaan dari setiap peserta tidak boleh yang sifatnya menyerang (offensive) karena ini diskusi bukan debat. Terlebih ketika dalam penyampaian pernyataan yang sifatnya berbeda pendapat. Nilai sopan santun dan etika dalam berdiskusi harus nampak.
  • Aspek yang akan dinilai di sini adalah bukan seberapa hebat secara individu dalam berargumen tetapi bagaimana seseorang itu bisa bekerja sama dalam tim. Sehingga sangat jelas bahwa target akhir dari rangkaian diskusi tersebut adalah untuk menyatukan segala pendapat berbeda itu menjadi sebuah kesimpulan yang konstrutif dan inovatif.

 

Hal ini sangat penting untuk diingat karena seringkali ada peserta yang cenderung mau mendominasi “show off” sepanjang diskusi berlangsung. Padahal hal tersebut  adalah kesalahan yang fatal. Karena hal yang sangat diharapkan dari diskusi ini adalah kerjasama tim (team work) dan interaksi sosial.

Mengingat LGD adalah jenis diskusi untuk menilai sikap dan perilaku seseorang maka setidaknya ada beberapa hal yang patut diperhatikan oleh setiap peserta dalam diskusi. Berikut adalah rangkuman dari beberapa sumber tentang aspek yang hendak diperhatikan perserta tes, antara lain: Pertama, Ketenangan, Kedewasaan dan kemampuan mengelola emosi; Kedua, Kemampuan mengutarakan pendapat etika berbicara dan diskusi; Ketiga, Kemampuan Berpikir kritis dan strategis; Keempat, Sikap dan perilaku di dalam forum; Kelima, Kemampuan menghargai orang lain; Keenam, Kepercayaan diri; dan Tahu diri.

Akhirnya semoga dengan membaca, menelaah dan memahami isi dari tulisan singkat dan sederhana ini setidaknya akan meningkatkan pengetahuan yang benar tentang: Apa itu LGD? Mengapa disebut LGD? Dan, Bagaimana aturan main selama LGD itu berlangsung?

Sehingga seketika tiba saatnya untuk harus mengikuti tes ataupun menjelaskan kepada orang yang tidak tahu tentang LGD diharapkan supaya tidak mengalami kewalahan lagi untuk mengikuti ataupun menjelaskannya. Semoga bermanfaat!

Indonesia Aku Pasti Mengabdi! 

Penulis Adalah Awardee Beasiswa LPDP PK-69 Balin Bahari yang sedang Kuliah Pada Program Master of Education di The University of Adelaide Australia Selatan.

4 Replies to “Leaderless Group Discussion (LGD) dalam Seleksi Beasiswa LPDP”

    1. Cara mengikuti seleksi nya seperti apa dan bagaimana jika yg sudah mengikuti perkuliahan dan apakah masih bisa mengikuti pendaftaran beasiswa ini..apakah masih bisa di ikut sertakan?

  1. Cara mengikuti seleksi nya seperti apa dan bagaimana jika yg sudah mengikuti perkuliahan dan apakah masih bisa mengikuti pendaftaran beasiswa ini..apakah masih bisa di ikut sertakan?

Leave a Reply