Mahasiswa: Antara Tanggung Jawab dan Komitmen

Oleh :

Ridlo Kuntoro Haryono, ST
Master Candidate of Applied Project Management
The University of Adelaide

 

Ketika memutuskan untuk melanjutkan sekolah, saya telah menjalani masa karir selama hampir 5 tahun di sebuah perusahaan BUMN di tanah air. Namun karena sedari kecil saya sudah bermimpi untuk bisa melanjutkan jenjang studi yang lebih tinggi, saya memutuskan untuk berhenti dari perusahaan tersebut dan alhamdulillah saya mendapatkan tawaran beasiswa untuk bersekolah di salah satu universitas di kota Adelaide, Australia.

Sesampainya di tempat tujuan belajar, saya sadar bahwa status dan kapasitas saya, baik sewaktu masih menjalani karir maupun saat menempuh program sarjana akan jauh berbeda dengan kondisi saat ini. Salah satu perbedaan yang mencolok tersebut adalah status saya sebagai penerima beasiswa dimana sponsor yang membiayai adalah pemerintah negara sendiri. Dari hal tersebut, saya menyadari bahwa terdapat harapan dan juga tanggung jawab moril karena seluruh pengeluaran yang timbul selama saya bersekolah dibiayai oleh hasil keringat seluruh rakyat Indonesia. Maka dari itu, saya pun berkomitmen bahwa saya harus fokus dan serius dalam menjalani program master ini.

Di sisi lain, saya tahu bahwa seorang mahasiswa juga memiliki tugas yang lebih besar dibandingkan pelajar pada umumnya. Karena menjadi mahasiswa itu bukanlah sekedar mencari ilmu di bangku universitas, namun lebih dari itu mahasiswa juga dituntut untuk memiliki keterampilan di luar akademik dimana salah satunya diperoleh melalui cara berorganisasi. Saya sangat paham mengapa hal tesebut sangatlah penting karena ilmu soft skill yang saya dapati selama berorganisasi di bangku sarjana lebih banyak teraplikasikan ketika saya bekerja dahulu. Oleh karena itu, saya pun berusaha untuk ikut dalam sebuah wadah organisasi bernama Persatuan Pelajar Indonesia Australia (PPIA) di kampus tempat saya menimba ilmu.

Pada masa awal bergabungnya saya di organisasi tersebut, saya hanya berpikir untuk meningkatkan soft skill dan menyalurkan ketertarikan saya di bidang desain grafis. Namun pada saat pergantian kepengurusan PPIA untuk seluruh state South Australia, saya diusung oleh rekan-rekan PPIA dari kampus saya untuk maju menjadi kandidat calon presiden. Dan tak disangka, saya terpilih dan diamanahkan untuk menjadi presiden periode selanjutnya.

Jujur, tawaran ini terdengar sangat seksi di telinga. Akan tetapi, saya paham betul hal ini akan menjadi tanggung jawab baru dan tantangan tersendiri selama saya menjalani studi di Australia. Salah satu tantangan yang akan dihadapi seorang ketua organisasi ialah tuntutan berupa waktu dan usaha yang lebih dalam mengatur organisasi tersebut. Terlebih lagi, seorang ketua pun diharapkan dapat mengakomodasi seluruh kepentingan anggotanya. Maka wajar, sebagian besar mahasiswa berusaha untuk menghindari peran tersebut karena dikhawatirkan akan mengganggu proses dan waktu belajarnya.

Bohong rasanya jika saya berkata bahwa ketika menjalani amanah ini tidak terdapat gangguan dalam proses akademik saya. Ada kalanya beberapa kali saya harus mengorbankan deadline tugas-tugas saya demi mengelola organisasi ini. Akan tetapi, berkat berorganisasi pula saya belajar untuk berkompromi. Melalui cara komunikasi yang baik, saya berusaha untuk berkompromi dengan dosen agar memberikan perpanjangan deadline untuk pengumpulan tugas-tugas saya tersebut. Dan alhamdulillah, sebagian besar dosen mau mengerti dan memberikan tambahan waktu kepada saya.

Selain pada itu, melalui organisasi ini saya juga belajar mengenai cara membuat perubahan. Menyelaraskan dengan apa yang saya dapat ketika menjalani orientasi mahasiswa baru saat pendidikan sarjana di Bandung, kala itu para senior menanamkan pemikiran bahwa mahasiswa merupakan agent of change (agen perubahan). Saya paham bahwa perubahan yang dimaksud itu bukanlah sesuatu yang hanya dirasakan oleh diri sendiri, tetapi juga oleh lingkungannya.

Dan ketika disini, hal tersebut saya alami saat mengikuti event School Program, yakni sebuah program kerja sama antara PPIA dengan komunitas warga Indonesia di Adelaide. Bersama dengan mereka, kami mendatangi beberapa sekolah lokal untuk mengajarkan kepada murid-murid sekolah tersebut mengenai kebudayaan Indonesia. Dari hal tersebut, saya tahu bahwa menumbuhkan pemahaman seputar keindonesiaan kepada dunia internasional merupakan langkah kecil dari sebuah perubahan.

Cukup banyak yang saya pelajari dari pengalaman berorganisasi ini. Mulai tentang mengelola potensi sumber daya manusianya hingga tentang bagaimana cara berinteraksi dan bersikap dengan sesama anggota. Saya sangat beruntung karena dapat bertemu dengan banyak teman mahasiswa yang berkuliah di berbagai kampus di Adelaide. Dan tanpa disadari, seluruh teman yang saya temui tersebut pun berasal dari berbagai daerah di tanah air. Saya percaya bahwa keberhasilan yang saya peroleh bukan atas usaha sendiri melainkan juga berkat bantuan dari teman-teman tersebut. Dan pada akhirnya, saya pun belajar bahwa sebuah tanggung jawab haruslah diiringi dengan komitmen yang kuat karena dengan demikian akan tercipta sebuah kesungguhan untuk menuntaskan tugas besar seorang mahasiswa.

 

Oleh: seorang pelajar yang sedang menunggu penantian

One Reply to “Mahasiswa: Antara Tanggung Jawab dan Komitmen”

Leave a Reply