Sekolah Tempat Memerdekakan Anak

Sebuah Catatan Penting bagi Semua Stakeholder yang sedang Berkecimpung dalam Dunia Pendidikan. Terlebih Khusus bagi Para Orang Tua dan Guru

Oleh Felix Degei*

Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa sekolah adalah tempat siswa menuntut ilmu. Meskipun tidak semua informasi ataupun pengetahuan kita akan peroleh hanya dari sana. Namun ia telah menjadi tempat dimana siswa akan memeroleh pendidikan secara formal dengan kurikulum pembelajaran yang resmi dan terstruktur. Sehingga ketika setiap anak tiba waktunya untuk sekolah selalu diajak orang tua untuk pergi ke sekolah.

Kendati demikian, belakangan ini esensi dari ‘Sekolah sebagai Tempat Memerdekakan Anak’ ini terlihat menyimpang. Bahkan seringkali kesannya ‘Sekolah sebagai Rumah Tahanan atau Penjara’ bagi anak-anak. Sehingga mereka tidak bisa secara optimal dalam belajar dan pembelajaran. Hal tersebut dapat terjadi karena banyak faktor. Salah satunya adalah akibat kelalaian sepeleh dari Para Orang tua juga Guru di sekolah.

Oleh karena itu, pada bagian selanjutnya secara khusus akan dibahas mengenai tiga hal penting yang harus diperhatian oleh baik Orang Tua maupun Guru di sekolah. Pertama; Orang Tua Harus Tahu Kapan Usia Anak bisa Masuk Pendidikan Formal (Sekolah). Kedua; Orang Tua Harus Memberikan Kebebasan pada Anak untuk Memilih Jurusan atau Program Studi yang Sesuai dengan Kemampuannya dan  Ketiga; Guru Harus Mau Mengajarkan Anak secara Holistik.

Pertama: Orang Tua Harus Tahu Kapan Usia Anak bisa Masuk Pendidikan Formal (Sekolah)

Usia adalah faktor yang sangat penting untuk diperhatikan oleh setiap orang tua sebelum mengajak anaknya masuk ke sekolah formal. Hal ini sangat penting karena kemampuan dan keterampilan setiap orang lazimnya berkembang seiring bertambahnya usia. Terlebih khusus berkaitan erat dengan tugas-tugas perkembangan individu yang harus terjadi pada setiap fase kehidupan. Jika tidak kelalaian sepeleh ini akan menjadi penyebab utama dalam masalah dan kesulitan belajar.

Akibatnya, siswa yang bersangkutan tidak akan bisa tampil secara optimal dalam Kegiatan Belajar dan Mengajar (KBM). Padahal idealnya mereka harus bertumbuh dan berkembang sesuai usianya dengan menimbah berbagai ilmu pengetahuan serta ketrampilan hidupnya. Padahal, hanya di sekolah para siswa punya kesempatan untuk belajar secara formal bersama dengan teman sekolahnya.

Berbicara mengenai kapan usia yang ideal untuk anak masuk sekolah formal, banyak ahli mengatakan bahwa usia yang sangat cocok untuk memasukkan anak di sekolah formal adalah Usia 7 tahun. Hal tersebut tersebut karena usia sebelum itu adalah usia keemasan (Golden Ages) bagi setiap individu. Masa tersebut adalah fase hidup seseorang yang sangat penting khusus untuk pengembangan Otak Belakang karena ia menentukan kecerdasan seseorang. Biasanya anak pada rentang usia tersebut cenderung selalu mau bermain. Sehingga mulai usia 6-7 adalah waktu yang cocok untuk masuk di Taman Bermain (Play Group).

Selain itu, dalam rentang usia itu juga seseorang akan mengalami pembentukkan fisik (r-system), emosi (limbic) dan perkembangan fungsi Otak Kanan (Right Brain). Tanda berkembangannya fungsi otak tersebut biasanya terlihat dengan adalnya kontrol emosi pada setiap orang. Salah satu contoh kongkritnya adalah seseorang mulai bisa berimajinasi. Sehingga pada Usia 7 tahun itulah menurut para Pakar Psikologi Perkembangan Manusia menyarankan agar anak sudah bisa masuk Sekolah Dasar. (Yuswandi W., 2013).

Jika anak dimasukan sekolah sebelum atau setelah usia tersebut adalah sama saja mereka sedang dibatasi hak asasinya. Padahal sekolah adalah tempat dimana setiap insan secara bebas dengan sadar belajar segala pengetahuan dan keterampilan hidup.

Psikolog Jan Piaget dalam Teorinya mengatakan bahwa usia 2-7 tahun sebagai usia Masa Pemikiran Opersional (Pre-Operational Thought) dan usia 7-11 adalah Masa Pemikiran Operasional Nyata (Concrete Operational Thought). Dengan demikian sangatlah jelas bahwa usia yang layak untuk memasukan anak pada sekolah formal adalah mulai dari 7 tahun. (Paul Suparno 2001 p. 86).

Selain itu, Piaget juga mengatakan bahwa Usia 7 tahun juga merupakan Fase Keempat dari Masa Perkembangan Sensori Integrasi. Pada masa ini seluruh indera anak bekerja menjelajahi berbagai pengalaman dan mengantarkannya ke Otak. Fase ini bisa juga disebut sebagai proses pengisian otak. Sehingga secara mental maupun spiritual mereka sudah siap menerima dan memproses informasi dengan baik.

Secara khusus dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 6 ayat 1 disebutkan bahwa setiap warga negara yang berusia 7 – 15 tahun wajib mengikuti Pendidikan Dasar. Selain itu dalam Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan Pasal 69 Ayat 4, juga disebutkan bahwa SD/MI atau bentuk lain yang sederajat wajib menerima warga negara berusia 7 tahun sampai dengan 12 tahun sebagai peserta didik sampai dengan batas daya tampungnya. (Depdiknas, 2003).

Dengan demikian sangatlah jelas bahwa usia yang ideal untuk anak masuk sekolah adalah 7 tahun. Sebagaimana dengan detai dibahas oleh Psikolog ternama Jean Piaget dengan tahapan perkembangan manusia serta Amanat Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 di atas. Hal ini sangat penting untuk diperhatikan guna merealisasikan misi ‘Sekolah Tempat Memerdekakan Anak.’ Karena jika tidak anak akan mengalami masalah dan kesulitan dalam belajarnya.

Kedua: Orang Tua Harus Memberikan Kebebasan pada Anak untuk Memilih Jurusan atau Program Studi yang Sesuai dengan Kemampuannya

Pada hakekatnya setiap orang adalah unik, khas tidak ada duanya. Sehingga idealnya mereka diberikan kebebasan sepenuhnya untuk memilih dan menetapkan sesuai kemampuan dan ketertarikan serta keterampilannya masing-masing. Hal tersebut seyogyanya berlaku dalam berbagai hal bagi siapa saja. Demikian juga dalam kebebasan memeroleh pendidikan yang layak serta penentuan jurusan dan perguruan tinggi.

Hal ini patut diketahui oleh siapa saja karena belakangan ini terlihat adanya intervensi dari pihak lain terhadap hak berpendidikan dari sesamanya. Misalnya seorang anak sekolah atau mahasiswa dalam pemilihan jurusan atau bidang studi ditentukan oleh Orang Tua, teman atau kerabat. Padahal pribadi yang mau sekolah adalah setiap anak yang bersangkutan bukan mereka yang memaksakannya.

Padahal hal tersebut secara tidak langsung orang tua ataupun siapa saja yang mengajak ataupun memaksakan sedang melanggar Hak Asasi Manusia (HAM). Dengan cara demikian, tentu akan berdampak buruk terhadap proses belajar. Sehingga kesan yang akan nampak adalah sekolah atau tempat belajar justru seakan menjadi penjara. Karena siswa yang bersangkutan tidak bisa mengikuti pembelajaran dengan baik.

Hal demikian sangat sering dijumpai dimana saja termasuk di Indonesia. Orang Tua bisa saja memilih dan memaksakan anaknya masuk pada jurusan atau bidang tertentu. Dengan harapan supaya mereka mendapatkan pujian ataupun prestise dari orang lain. Terlebih karena jurusan atau bidang yang diambil oleh anaknya.

Untuk mengantisipasi akan adanya praktek ketidakadilan seperti itu, ada banyak pihak yang membuat regulasi untuk mengantisipasinya. Entah itu melalui peraturan atau kebijakan yang dibuat oleh pengambil kebiajakan di daerah, negara, wilayah ataupun dunia. Sehingga berikut ini adalah Hasil Konfensi PBB tentang Hak-Hak Dasar dari Orang dengan Kebutuhan Khusus 1994.

“(a) Every child has a fundamental right to education, and must be given the opportunity to achieve and maintain an acceptable level of learning;” and (b) “Every child has unique characteristics, interests, abilities and learning needs.” (The Salamanca Statement: June 1994; Point 1a & b.)

Artinya bahwa setiap anak memunyai hak yang paling mendasar untuk memeroleh pendidikan. Sehingga mereka harus diberikan kesempatan untuk berprestasi karena mereka itu unik dengan hobi serta keterampilan sesuai dengan kebutuhannya. Hal ini berarti bahwa orang tua ataupun pihak lain tidak memiliki hak untuk campur tangan. Terlebih khusus dalam pemilihan jurusan ataupun bidang yang diminati anak.

Jadi inti dari point kedua ini bahwa jika saja ada campur dari pihak lain misalnya orang tua dalam memasukan siswa ke sekolah, memilih bidang atau jurusan untuk anak bersekolah maka hal tersebut tentu menjadikan sekolah sebagai tempat bukan untuk memerdekakan anak. Alasannya karena anak yang bersangkutan tidak akan bersekolah secara bebas dan leluasa. Serta ia akan hadir hanya karena keterpaksaan. Padahal sekolah tempat memerdekakan anak.

Ketiga: Guru Harus Mau Mengajarkan Anak secara Holistik

Guru di sekolah dalam Proses Kegiatan Belajar dan Mengajar (KBM) harus memberikan pelayanan yang prima dan menyeluruh (holistik). Hal ini berarti bahwa tujuan dari pembelajaran tersebut dapat mengembangkan seluruh potensi yang dimiliki setiap siswa. Entah itu melalui kegiatan dalam kelas (kokurikuler) maupun luar kelas (ekstrakurikuler). Sehingga para siswa benar-benar merasa terberdayakan dengan metode-metode pengajarannya.

Setidaknya ada tiga domain atau ranah kemampuan siswa yang harus diberdayakan sebagaimana digagas dalam Taxonomy Bloom (Anderson & Krathwohl, 2001 p. xxvii). Ketiga bagian kemampuan tersebut antara lain; Ranah Kognitif, Ranah Afektif dan Ranah Psikomotorik. Pertama; Ranah Kognitif adalah menyangkut aspek Ilmu Pengetahuan. Kedua; Ranah Afektif adalah menyangkut Aspek Sikap dan Ketiga; Ranah Psikomotorik adalah menyangkut Aspek Keterampilan Hidup.

Mengingat betapa pentingnya hak-hak dasar hidup dari seorang anak maka berikut adalah Konfensi yang pernah diselenggarakan oleh Perserikan Bangsa-Bangsa (PBB) pada tahun1996. Isinya memuat tentang aspek yang harus dikembangkan secara penuh pada setiap anak antara lain aspek kepribadian dan talenta, Selain itu juga mengatur tentang betapa pentingnya pengetahuan untuk anak menyangkut bagaimana supaya bisa menghargai orang tua, budaya dan sesama yang lain. Berikut adalah naskah aslinya.

“Education should develop each child’s personality and talents to the full. It should encourage children to respect their parents, their cultures and other cultures.” (UN Convention on the Right of the Child Artikel 29:1996).

 

Selain itu, dalam Konfensi dari PBB tentang Perlawanan akan Adanya Sikap Membeda-bedakan (Diskriminasi) terhadap Anak (1962) juga membahas lebih detail mengenai hal-hal esensial yang harus diberdayakan terhadap anak. Berikut kutipannya!

“Education shall be directed to the full development of the human personality and to the strengthening of respect for human rights and fundamental freedoms; it shall promote understanding, tolerance and friendship among all nations, racial or religious groups, and shall further the activities of the United Nations for the maintenance of peace.” (UN Convension against Discrimination Artikel 5: 1a (May 1962)

Dalam Artikel tersebut di atas menjelaskan bahwa pendidikan hendaknya diberlakukan dengan pengembangan pada kepribadian dan meningkatkan rasa saling menghargai dengan hak-hak dasar seseorang. Hal tersebut tentu akan mempromosikan betapa pentingnya nilai hidup seperti bertoleransi terhadap sesama yang beda agama, ras dan lainnya untuk menciptakan kedamaian.

Singkatnya untuk mewujutkan ‘Sekolah sebagai Tempat Memerdekakan Anak’ maka semua semua pihak penting yang selalu terlibat dalam pendidikan harus memperhatikan ketiga aspek di atas. Terlebih khusus oleh Para Orang Tua dan Guru. Tiga hal penting tersebut antara lain: Pertama; Faktor Usia Masuk Sekolah bagi Siswa, Kedua; Memberikan Siswa Hak Sepenuh untuk Memilih Jurusan atau Bidang sesuai Kemampuannya; dan Ketiga; Pembelajaran yang Holistik bagi Siswa.

Jika salah satu saja dari ketiga aspek di atas tidak terpenuhi maka sudah pasti siswa tidak akan menerima pelajaran dengan baik dan benar. Karena layaknya pendidikan yang baik adalah pembelajaran yang memberdayakan seluruh potensi yang ada pada setiap siswa. Baik itu pada Aspek Ilmu Pengetahuan (Kognitif); Aspek Sikap (Afektif) dan Aspek Keterampilan Hidup (Psikomotorik).

Semoga dengan Momentum Hari Pendidikan Nasional Tanggal 2 Mei 2017 ini dapat membawa dampak yang positif dalam Misi Memanusiakan Manusia yang Seutuhnya. Majulah Pendidikan di Indonesia!

 *Penulis Adalah Awardee Beasiswa LPDP PK-69 Balin Bahari yang sedang Kuliah Pada Program Master of Education di The University of Adelaide Australia Selatan.

Leave a Reply