Strategi China dalam Membangun Bangsa

Saat sarapan dan makan malam adalah saat di mana kami bisa ngobrol dengan mahasiswa lain yang tinggal di Kathleen Lumley College, apartemen (asrama) tempat kami tinggal di sini. Kami biasanya duduk di meja tengah, meja yang tidak terlalu ramai hingar bingar, dan ketika ngobrol dalam grup kecil (3-4 orang) bisa dilakukan.

Pada saat sarapan kemarin, kami (saya dan Rano), duduk di ujung meja tengah bersama Ralph dan Lei. Ralph adalah kandidat Ph.D Arts and History, dia berasal dari New Zealand, sedangkan Lei adalah mahasiswa master jurusan Finance and Accounting yang berasal dari China. Kami bercerita mengenai “pekerjaan impian” di negara masing-masing. Pekerjaan impian kami artikan sebagai pekerjaan yang berpendapatan besar, prestisius di mata masyarakat, dan mempunyai peluang karier yang cerah.

Di Indonesia, tanpa maksud mengeneralisir, menjadi dokter, pekerja kantoran yang sukses (banker, lawyer, konsultan), guru, pilot, seperti masih menjadi idola “orangtua”. Walaupun banyak orangtua yang sudah mulai terbuka dengan berbagai profesi lainnya, seperti koki, musisi, atau pekerjaan di bidang seni dan budaya.

Menurut cerita Ralph, di New Zealand pekerjaan apapun rasanya sama saja. Apakah nanti memilih bergelut di bidang Pertanian, Peternakan, Sejarah, atau Seni, rasanya sama.

Bagaimana dengan di China?

“In China, it’s all about economic development.” ujar Lei semangat. Pekerjaan yang dianggap prestisius adalah pekerjaan yang berhubungan dengan ekonomi, keuangan, bisnis, dan pembangunan.

“How about technology and science?” saya iseng bertanya, penasaran dengan masa depan ekspansi dan inovasi “barang elektronik” dan teknologi lainnya dari China.

“Yes, it includes to the development part.” jawabnya. “The Government supports the students to study aboard, particularly who wants to take economy, business, or anything relates to development.”

“How about the entrepreneurship? Does China’s Government endorse the students to learn entrepreneurship?”

“Ya, ya’ of course. Entrepreneurship is part of every course in China.”

Saya langsung terpikir, China yang sudah terkenal kuat perekonomiannya (walaupun pertumbuhan ekonominya sudah di bawah 10% sejak tahun lalu), masih merasa wajib berinvestasi dengan generasi mudanya. China sangat mendorong perekonomian melalui peningkatan peran industri besar dan kecil, mendorong ekspor besar-besaran, inovasi produk, serta insentif dan kelonggaran dalam beberapa regulasi untuk perdagangan internasional, ketenagakerjaan, dan pajak.

Memang tidak semuanya bisa diterapkan di Indonesia, (saya pribadi masih suka geram dengan rendahnya upah buruh dan “menyepelekan” hak kebebasan individu di China), tapi ide investasi Sumber Daya Manusia jangka panjang ini adalah ide yang sangat bagus, terutama dalam kaitannya dengan pendidikan.

Bagaimana dengan negara kita?

Senang rasanya Indonesia sudah mulai membuka jalan bagi pelajarnya untuk melanjutkan sekolah di luar negeri. Melalui berbagai pelatihan dan dukungan finansial baik dari pemerintah Indonesia, swasta, maupun pemerintah atau institusi asing, pelajar di Indonesia berpeluang besar untuk merasakan belajar di negara orang lain.

Indonesia pun saya rasa mulai jelas dalam mengarahkan anak muda-nya, terlihat dari “bidang-bidang unggulan” ketika melamar beasiswa. Bidang unggulan tersebut sesuai dengan Rencana Jangka Menengah dan Jangka Panjang Nasional, yang mana sesuai dengan kebutuhan rakyat dan cita-cita bangsa.

 

oleh:

Naimah Talib

Awardee LPDP PK 50

Leave a Reply